Kocak, Ucapan Ulang Tahun 'Ajudan Pribadi' untuk Kang Emil

Dalam video itu, seperti biasa Konyol Ajudan Pribadi berbicara dengan gaya kocaknya dan bahasa blepotan.



Tidak hanya itu, ternyata perjabat yang akrab disapa Kang Emil itu mendapat ucapan selamat dari selebgram Akbar Nyol si Ajudan Pribadi. Kang Emil memosting ucapan selamat itu di akun fanpage Facebook-nya.
Dalam video itu, seperti biasa Konyol Ajudan Pribadi berbicara dengan gaya kocaknya dan bahasa blepotan. Ditambah makin menggelitik ketika pria bertubuh tambun itu mengenakan batik yang bagian bawah terbuka.
Dalam Caption video Konyol Ajudan Pribadi yang di-upload itu Kang Emil menuliskan caption "Cocok gak jadi kepala Humas Pemkot?" Sontak hal itu menjadi pembahasan heboh netizen.
"Ahahahahaha....., Kalau ini jadi kepala Humas. Bisa dipastikan jumlah keluhan akan berkurang drastis, wong yang ngeluh pulang2 bisa happy. Hhahahaha," tulis salah satu netizen. (poy)

Lihat video Instagram ajudan_pribadi di bawah ini:

Mantan Pengikut Dimas Kanjeng Ungkap Kesaksian Menggegerkan

Junaedi, mantan pengikut Padepokan Dimas Kanjeng saat melapor ke Polres Probolinggo [suara.com/Andi Sirajuddin]

Junaedi, mantan pengikut Padepokan Dimas Kanjeng saat melapor ke Polres Probolinggo

Salah satu pengikut yang sadar telah korban penipuan uang yang dilakukan pengasuh Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi melapor ke Mapolres Probolinggo, Jawa Timur. Saksi kunci ini bernama M. Junaedi. Junaedi mengaku sempat menjadi target kedua untuk dibunuh, setelah Ismail Hidayah.

“Saya berani melapor setelah melihat tayangan televisi, ditangkapnya Taat Pribadi, dan pernyataan Marwah Daud yang begitu getolnya membela mati-matian Taat Pribadi,” katanya di ruang SPKT Mapolres Probolinggo.

Junaedi merupakan warga Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Rumahnya pernah menjadi sasaran pelemparan bondet oleh orang tak dikenal.
Ketika dia melapor ke posko pengaduan korban Taat Pribadi di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu Mapolres Probolinggo, dokumen-dokumen yang dipunyainya pun diserahkan.


Antara lain, foto Junaedi bersama Taat Pribadi. Foto Junaedi bersama Mishal Budiarto alias Sahal yang kini telah menjalani hukuman dalam kasus pembunuhan terhadap Ismail Hidayah. Kemudian foto tumpukan uang. Foto itu persis seperti yang terlihat di video ketika Taat Pribadi sedang menghitung uang di hadapan para lelaki bertelanjang dada.

Junaedi mengaku tahu seluk beluk aliran dana Taat Pribadi secara tidak sengaja pada 2011.

Saat itu, nama padepokan Dimas Kanjeng belum dikenal seperti sekarang. Doktor Marwah Daud Ibrahim ketika belum bergabung ke padepokan.

Menurut Junaedi untuk memuluskan niat agar Marwah Daud bergabung, Taat Pribadi menggunakan cara khusus. Taat Pribadi, katanya, menelepon Marwah Daud yang ketika itu berada di Makassar, Sulawesi Selatan.

Taat Pribadi berupaya meyakinkan Marwah bahwa Taat Pribadi bisa mengutus jin untuk mengirim uang tunai kepada Marwah Daud. Benar saja, saat Marwah membuka pintu rumahnya, kata Junaedi, sudah ada dua koper uang tunai pecahan seratus ribu rupiah.

“Tapi sebenarnya itu bukan jin yang membawa. Melainkan almarhum Ismail (korban pembunuhan) yang mengantar ke sana. Baru setelah uang sampai, dan Ismail pergi, Taat menelepon Marwah untuk mengecek keberadaan uang tersebut,” ujarnya.


Aksi itu, katanya, berhasil membuat Marwah yang merupakan politikus dan cendekiawan muslim terkesima dengan kelebihan Taat Pribadi, hingga menyebutnya memiliki karomah.

Junaedi mengaku jadi pengikut Taat Pribadi karena hipnotis yang disertakan dalam kaset VCD rekaman Taat Pribadi saat menaruh uang. Junaedi mulai curiga pada padepokan sekitar akhir 2014.

Ketika itu, dia sering melihat Ismail bertengkar dengan pengikut padepokan yang lain soal pencairan uang. Firasat buruknya pun terbukti, Ismail tewas dibunuh. Waktu itu belum ketahuan siapa pelakunya.

Padahal, kata Junaedi, niat Ismail ketika itu hanya ingin meminta padepokan mengembalikan uang pengikut.

“Mereka itu tak ubahnya memperkaya diri sendiri dan pengikut setianya, sementara umat yang lain, dijadikan ATM berjalan, untuk mengeruk uang,” kata lelaki berusia 49 tahun.

Cetak Design Kartu Undangan Pernikahan & Khitanan

Apa Itu "Pen Pineapple Apple Pen ✒🍍🍎✒ PPAP" yang Ramai di Medsos?



 "I have a pen, I have an Apple, Uh! Apple pen...! I have a pen, I have pineapple, Uh! Pineapple pen!"

Jika ada teman, keluarga, atau rekan kerja Anda yang menyanyikan lirik lagu tersebut di atas, maka bisa dipastikan mereka telah terjangkit virus PPAP.

PPAP, atau singkatan dari Pen-Pinepaple-Apple-Pen, adalah lagu yang dinyanyikan oleh musisi dan komedian Jepang, Kazuhiko Kosaka atau yang populer dipanggil Piko-Taro, yang diunggah di situs YouTube.

Bak virus yang menyebar luas di jejaring sosial, video lagu tersebut mendadak viral dan menjadi perbincangan di dunia maya.

Pantauan saya, PPAP menjadi perbincangan sejak Minggu (25/9/2016) malam di Indonesia. Padahal, video klip lagu tersebut sudah diunggah sejak 26 Agustus 2016 lalu di situs YouTube.

Video Pen-Pinepaple-Apple-Pen dapat ditonton di YouTube dari tautan ini.



Hingga Selasa (27/9/2016) malam, PPAP Piko-Taro sudah mendapat sekitar 48.000-an Likes dan 4,7 juta views di situs YouTube.

Lagu PPAP berdasar pantauan saya viral melalui situs-situs berbagi kelucuan, seperti 9GAG dan SGAG. Lewat meme-meme dan video cover,netizen banyak yang membaginya di media sosial, seperti facebook, Vine, Instagram, Twitter dan sebagainya.

Coba saja search dengan kata kunci PPAP di Instagram, Twitter, dan YouTube, Anda akan menemukan betapa "virus" PPAP sudah mewabah luas.


A video posted by 市野 莉子 (@riko_ichino) on





Lirik yang catchy, melodi yang funky membuat lagu tersebut mudah dihapal dan "menyangkut" di kepala. Secara tanpa sadar, kita pun menjadi ikut menyanyikannya dalam hati, atau sambil bergumam.

"Apple pen.. Pineapple pen... Uh..! Pen Pineapple Apple Pen...!"

belajar desain grafis membuat pamflet sederhana adobe photoshop (ps)

Polisi ini Gemetaran Usai Kepergok Ganjar Lakukan Pungli 50 Ribu ke Warga





Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menemukan adanya pungutan liar (pungli) terhadap pelayanan cek fisik kendaraan bermotor oleh petugas kepolisian di Kantor Samsat, Kota Magelang, Rabu (5/10/2016).

Saat itu, Ganjar yang mengenakan kemeja batik turun dari mobil Toyota Hiace di halaman Kantor Samsat Magelang dan langsung bertanya kepada sejumlah warga yang sedang mengantre tentang besaran biaya yang dikeluarkan untuk mengurus pelayanan cek fisik tersebut.

Tak disangka, seorang warga, Sugiharto (61), menjawab bahwa dia telah membayar Rp 50.000 kepada seorang petugas.

Ganjar meminta Sugiharto menunjukkan petugas yang meminta uang tersebut. Warga tersebut lalu menunjuk seorang anggota polisi bernama Brigadir Dani. Polisi itu pun langsung dicecar pertanyaan oleh Ganjar. 

Dia diminta untuk mengembalikan uang yang diterima dari Sugiharto. Menurut Ganjar, dia telah melakukan pungli.

Dengan gemetar, Brigadir Dani langsung mengembalikan uang pecahan Rp 50.000 tersebut kepada Sugiharto.


"Saya minta jangan diulangi lagi. Ini harus dibenahi. Saya banyak menerima keluhan (pungli) seperti ini dan saya kecewa sudah sejak lama," imbuh politisi PDI-P ini.

Polisi itu hanya bisa pasrah ketika Ganjar kembali menghujaninya dengan berbagai pertanyaan dan nasihat. Brigadir Dani juga sempat membela diri.

"Ini hanya salah paham kok, Pak, kami tidak minta," ungkapnya.

Menurut Ganjar, dari bahasa tubuh oknum anggota polisi yang tertangkap melakukan pungli, ada upaya untuk melakukan perbaikan sehingga perlu diberi kesempatan agar tidak mengulanginya kembali.

“Tadi dia sampai jabat tangan saya sampai menggenggam kenceng, cium tangan saya, kan saya enggak enak. Artinya body language itu sudah menunjukkan, ya harus berubah, Anda keliru,” tuturnya.

Ganjar menegaskan, pihaknya sedang gencar melakukan upaya reformasi birokrasi dan memperbaiki layanan publik di Jateng, maka harus didukung oleh instansi yang berkaitan langsung.

“Kalau kami dibantu instansi lain, tentu bisa lebih cepat perbaikan layanannya,” katanya.

Sementara itu, Sugiharto mengaku bahwa pada awalnya dia sedang mengurus cek fisik untuk penggantian pelat nomor pada sepeda motornya. Dia mengaku tahu bahwa layanan tersebut tak dikenakan biaya alias gratis.

“Saya tadi cek fisik kemudian diberi kartu. Kemudian petugasnya bilang biayanya Rp 50.000, tapi tidak ada kuitansinya. Saya tahu kalau gratis, tapi diminta, ya tetap bayar,” katanya.

Warga Bayeman, Magelang Tengah, Kota Magelang, tersebut mengatakan, selain dirinya, banyak warga lain yang sedang mengurus pada layananan yang sama juga dimintai uang.


LIKE And SHARE 


Masih Kosong halaman ini masih dalam proses
Masih Kosong halaman ini masih dalam proses
Powered by Blogger.